Walau masa pandemi tapi mobil masih berlimpah di jalanan. Dari Avanza, Sigra, Ayla, Agya, Satya, Calya, dan banyak lagi (jenenge mobil kok koyok jeneng bayi zaman saiki yo).
.
Orang Endonesa sudah banyak yang mampu beli mobil. Jalanan kampung disesaki oleh mobil-mobil yang nggak murahan. Padahal dulu cuman satu dua orang yang punya. Itu pun mobil warisan, ngisore akeh sing krowak dikrikiti tikus. Sampek ditembel karo lempung.
.
Zaman sudah berubah. Mbiyen wong sugih iku iso didelok tekan kulit-kulitane : resik, mulus, seger. Saiki sing rupane melas, kulite burek mblendes tapi gawanane BMW (padahal dulu mampunya beli BMX) atau minimal Avanza.
.
Tapi pancen onok model wong sing gak pantes sugih. Bendino adus ping telu, tetep ketok kere, mbladus jaya. Sudah capek-capek selfie di dalam mobil bagus, pesawat, atau di kapal pesiar, orang tetap nggak percaya : Paling editan atau Paling dibayari kantor.
.
Asli nggak nyaman jadi orang yang bertampang babu. Ketika masuk ke toko barang mewah milik seorang keturunan Tionghoa, si pemilik toko bilang, Maaf di sini nggak ada barang murah.. Ini beneran terjadi pada temannya temanku. Amsyong banget.
.
Cuman sekarang ini yang nggak asyik, banyak OKB (Orang Kaya Baru) yang menjadikan jalan kampung sebagai garasi. Mungkin dulu nggak nyangka kalau akhirnya bisa beli mobil. Padahal rumah sudah terlanjur diseting tanpa mobil. Semua tanah yang tersisa sudah dijadikan kamar, sampai nggak tersisa satu centimeter pun.
.
Kita ini bangsa yang menjaga perasaan orang, karena hubungan persaudaraan lebih utama. Jadi, orang Endonesa itu nggak bisa terang-terangan kalau ada sesuatu yang sebenarnya salah. Dan juga karena kita punya budaya ngalah. Atau juga senasib, sama-sama nggak punya garasi. Makanya nggak ada papan peringatan : Jalan Umum Bukan Garasi.
.
Tapi kita perlu juga berbesar hati bahwa mereka melakukan itu karena terpaksa. Tapi terpaksanya kok lama. Sudah ganti mobil berkali-kali (dan malah tambah lagi), tetap ditempatkan di jalan.
.
Kondisi ini nggak cuman terjadi di daerah metropolis seperti Jakarta, Surabaya, atau mBandung. Di Malang, Solo, nJombang, mBlitar, atau kota lainnya juga seperti itu. Jalanan kampung menjelma jadi garasi. Karena di tengah kota, kampungnya sudah kayak labirin. Mandarmugo nang mBali gak koyok ngono.
.
Bermasyarakat itu gampang-gampang susah. Nek gak ngomong ya'opo, tapi nek gak diomongno yo ya'opo. Kalau dibiarkan, yang lain ikut-ikutan. Karena banyak yang melakukan, mereka jadi nggak rumongso salah. Nanti kalau sudah parah masalahnya, pada mumet berjamaah.
.
Kayak orang-orang yang dengan rileksnya mendirikan warung di trotoar atau tanah pemerintah. Suatu kali saat diminta pindah, pada ngamuk, pemerintah di-dzalim-dzalimkan.
.
Angel wis.