Kelas Set and Forget Matematika Ajaib di SD Islam Khoiru Ummah Malang

Komentar · 50 Lihat

Ada dua kelompok yang saya analisa. Kelompok Set and Forget dan Kelompok Pendampingan Murni di Kelas 2 SD Islam Khoiru Ummah Malang. Tulisan ini membongkar bagaimana perlakuan Matematika Ajaib untuk murid-murid Kelas 2 di SD Islam Khoiru Ummah Malang

Analisa Kelas Pendampingan Mapel Matematika Ajaib Kelas 2A KhU

  • KELOMPOK PENDAMPINGAN “SET AND FORGET” (Ilham, Daffa, Faiq, dan Putra).
  • KELOMPOK PENDAMPINGAN MURNI (Ahnav, Affan dan Salman)

Istilah ini sering saya ucapkan di ratusan seminar pendidikan di pelosok negri sejak tahun 2000 hingga hari ini. Pendampingan SET FORGET adalah salah satu ikhtiar kami dalam memilah anak didik agar lebih mudah memberikan terapi pembelajaran suatu disiplin ilmu. Katakanlah mapel Matematika, mapel yang ada di setiap sekolah sejak dulu namun sering kali dianggap makhluk asing macam alien.

Tak terkecuali, di kelas 2A KhU ini awalnya hanya ada 1 kelompok, yaitu Pendampingan Murni. Artinya pendampingan untuk anak didik yang dilakukan secara intensif.

Dan mulai bulan ke 3 sejak kami berinteraksi dengan kelas 2A, saat ini sudah bisa dibentuk kelompok Pendampingan Set Forget. Yang termasuk dalam kelompok Set Forget saat ini adalah Ilham, Daffa, Faiq, Ganendra, dan Putra. Sedangkan Pendampingan Murni adalah Ahnav, Affan dan Salman.

Pembagian kelompok ini bukan menggambarkan kasta kepintaran anggota kelompoknya. Tetapi lebih kepada ikhtiar agar kami mudah mendeteksi kebutuhan mereka terhadap mapel Matematika.

Jadi masih sangat memungkinkan anggota kelompok berpindah sesuai kebutuhannya.  Tergantung seberapa rumit persoalan yang mereka hadapi.

Catatan untuk Ahnav: dia mampu mengerjakan soal hingga 10-30 nomor pada saat didampingi dan diajak mendiskusikan apa yang menjadi hobi dan kesukaannya disaat mengerjakan soal. Hal ini kami lakukan untuk mengusir kejenuhan dan kebosanannya. Dan hasilnya Alhamdulillah selalu bagus. Dari 30 nomor mungkin cuma 2-5 kesalahannya. Itupun karena ketidaktelitian, bukan tidak memahami persoalan.

Kami yakin, jika pola belajar Ahnav seperti ini, dalam kurun 1 semester dia mampu berpindah ke kelompok Set Forget, asalkan dia berada dalam situasi yang saling mendukung.

Affan dan Salman juga sama. Lebih bisa belajar dengan fokus dan serius pada saat mereka didampingi, dan menunjukkan hasil yang baik.

Namun mereka belum waktunya berpindah ke kelompok Set Forget, karena konsentrasi mereka cenderung pecah dalam situasi sedikit bising.

Sebaliknya, pada kelompok Set Forget, murid sudah bisa ditinggal sekitar 10-15 menit setelah diberikan instruksi pembelajaran. Waktu 10-15 menit adalah waktu ideal mereka saat ini. Waktu ideal bisa lebih lama sekitar 30-60 menit jika situasi belajar lebih kondusif.

Catatan dari Kelas IMA (Islamic Math Adventure, Matematika Terapan) setiap hari Sabtu :

Murid-murid kelas 3 4 5 yang tergabung di kelas IMA bisa tahan konsentrasinya hingga 90-120 menit. Terutama murid putri. Padahal bagi murid kelas 3, materi Matematika Terapan yang diberikan termasuk ilmu baru. Dan murid kelas 3 harus bekerjasama dengan murid kelas 4 atau 5. Tentu bagi mereka menjadikan hal menyulitkan karena “modal dasar” ilmu matematika kelas 3 tentu berbeda dengan kelas 4 atau 5.

Namun faktanya meski berbeda “modal dasar” ilmu matematika-nya, ternyata murid kelas 3 lebih kuat mentalnya dibandingkan murid kelas 4. Dan uniknya, meski secara keilmuan mereka belum diajarkan di kelas, namun karena memiliki mental yang kuat, mereka menjadi lebih semangat mempelajari ilmu Matematika Terapan ini diabandingkan murid kelas 4. Dan murid putri jauh lebih kuat mentalnya diandingkan murid putra. Sampai hari ini kami masih mencoba menganalisa penyebabnya.

Mempelajari sesuatu memang tidak perlu lama, tetapi yang lebih diperhatikan adalah kualitas interaksi pendamping dan murid yang didampingi. Belajar 1 hal dalam kurun 5 menit namun berkualitas, akan lebih baik dibandingkan belajar banyak hal dalam waktu lama namun tidak intensif.

Jadi, kembali ke kelompok Pendampingan Murni, perubahan pola belajar bagi mereka sangat mendesak dilakukan. Jangan biarkan mereka tertinggal sendirian tanpa pendampingan instensif di rumah dan sekolah. Mumpung mereka masih di kelas 2. Materi akan menjadi lebih banyak dan rumit di kelas 3 nanti.

Dan untuk mereka di kelompok Pendampingan Set Forget, pendampingan intensif juga harus tetap dilakukan agar energi mereka dapat tersalurkan dengan baik untuk menjaga motivasi mereka agar tetap “on the track”.

Cara terbaik saat ini adalah meningkatkan kemitraan antar sesama orangtua murid 2A, dan orangtua murid dengan guru kelas 2A dan sekolah. Agar setiap permasalahan berkaitan dengan prestasi akademik maupun prestasi non akademik anak dapat sedini mungkin terdeteksi.

Semoga berkenan

Wallahu’alam

Al-Faqir Ila Allah | Siti Nurhasanah | Matematika Ajaib

Komentar