Jangan Mau Indonesia Dijadikan India Kedua Hanya Karena Bisa Bikin Vaksin Nusantara

Komentar · 71 Lihat

Sudah berapa banyak vaksin yang ada di dunia ini untuk memerangi Covid? Sebut saja ada vaksin Nusantara, Astrazeneca, Sinovac, Sinopharm dan lainnya. Apakah berbagai merek vaksin yang hadir di hadapan kita ini dapat diandalkan untuk digunakan sebagai vaksin Corona atau Covid 19?

Sudah berkali-kali kita ingatkan bahwa media internasional itu sudah ditangan globalis. Kalau globalis tadi mau apa saja, maka berita itu disesuaikan dengan tujuan mereka.

Virus Covid muasalnya itu dibuat di laboratorium di China dan itu tidak perlu diperdebatkan datanya. Banyak dan ada dimana-mana, lalu bocor di mana semua orang tahu itu dibocorkan. Sehingga menjadikan virus Covid adalah petaka ciptaan manusia. Siapa manusianya itu? Ya globalis!

Ketika berita Internasional membesar-besarkan bertumbangannya orang dimana-mana di Wuhan, mulai dari yang mati mendadak disebarkan secara masif ke seluruh dunia. Kemudian juga negara Eropa diberitakan banyak zombie dan total Lockdown secara berlebihan.

Ini adalah mesin perang, mesin propaganda Covid menjadi senjata perang. Beritanya kemudian menjadi mesin uang globalis, yaitu vaksin, obat dan vitamin. Satu setengah tahun setelah beritanya dibesar-besarkan yang terbukti bahwa Covid menjadi mesin ekonomi, panen akbarlah para broker kesehatan kaki tangan globalis ini dengan produk yang bernama vaksin dan berbagai macam obat-obatan termasuk vitamin.

Kemudian sekarang mendadak disemua media sosial dan media mainstream dunia kembali dihebohkan dengan bertumbangannya orang di India yang dikatakan bisa satu hari ada 50.000 kematian. Kemudian satu hari bisa ratusan ribu orang terpapar walaupun faktanya mendekati demikian jumlah yang sangat besar itu memang mencerminkan kegagalan Pemerintah India mengatisipasi second wave, gelombang kedua.

Benar India saat ini memang mengalami second wave. Memapar 300 ribuan kasus baru dan menyebabkan lebih dari 2000-an kematian dalam satu hari. Menempatkan India di urutan nomor dua dengan 18 juta lebih kasus Covid, nomor dua setelah Amerika dengan 32.000.000 total kasus Covid.

India dalam keadaan darurat sampai tidak ada kayu untuk mengkremasi pembakaran jenazah untuk melaksanakan kebiasaan di India. Hal ini membuat dunia mulai menganalisa lagi. Dokter Paul, Profesor dari National University of Singapore mengatakan data terbaik menunjukkan bahwa sistem imunitas tubuh manusia yang tinggi jauh lebih bisa merespon multi mutasi virus ketimbang antibodi vaksin.

Kembali ke India. India punya varian Double Mutation B 1617 di Maharashtra, gabungan mutasi dari varian E-484 dan l-4523 kombinasi ketiga stream berbeda lalu menghasilkan Tripel Mutation yaitu B 1618. Dalam integrative biologi menyamakan triple mutation sebagai imun Escape Varian virus menempel di sel manusia dan sembunyi dari imun sistem.

Dengan kata lain, kalian belum tentu aman dari berbagai varian ini walaupun kalian sudah divaksin karena kecepatan mutasi virus!

Sebagai informasi tambahan, varian India sudah sampai Singapura! Kita harus segera bertindak. Sejengkal lagi masuk Indonesia!

Perang melawan Covid ini Pemerintah harus dua langkah lebih awal mengantisipasi mutasi virus. Apa itu dua langkah lebih awal ? Kita harus mempunyai alternatif. Jika ternyata vaksin tidak efektif, maka percepat riset dan uji klinis imunoterapi Nusantara atau dinus ini.

Kembali ke topik awal yang kita mau tekankan dalam diskusi kali ini adalah cara memberitakannya bener-bener tertarget dan sangat ditarget. Ini yang disebut propaganda. Siapa yang kita curigai selain musuh terbesar globalis?

Dalam produksi vaksin Covid dia adalah India. India menjadi target Assassin dari intelijen operasinya globalis. Target operasi berita yang di rekayasa yang dilebih-lebihkan untuk memukul India dan memastikan vaksin Global dipakai di India dan India tidak sempat memproduksi vaksin untuk dunia!

Globalis jago mengemas beritanya untuk menjadikan tool untuk membunuh India di mata internasional ! Jadi mengerti mengapa India beritanya dibesar-besarkan! Ya karena India salah satu negara penghasil vaksin non globalis terbesar, tercepat serta tidak mau ikut vaksin globalis.

Dari awal menentang dan selalu melawan, sama seperti vaksin lokal Indonesia yang Merah Putih dan Nusantara! Dan banyak lagi sekarang sedang dikembangkan. Semua nantinya ditarget.

Jadi sebaiknya produksi vaksin Indonesia juga produksi sistem peningkatan imunitas harus segera dilakukan dan semua ini dilindungi oleh negara, bukan dihalangi atau diperlambat dengan izin BPOM yang dipersulit dan penggagasnya dimatikan karakternya. Juga tenaga ahlinya dianggap abal-abal.

Kok membangun narasi antipati begitu sih ? Ini keadaan darurat perang, bela bangsamu, mana nasionalismemu!

Vaksin buatan anak bangsa adalah produk lokal. Juga vaksin yang telah dibeli pemerintah tetap didukung, namun kalau bisa 80%-nya atau mayoritas vaksin dan imunitas obatnya lokal, karyanya bisa kembali ke sistem perlindungan negara Indonesia.

Itulah berkali-kali kita katakan lobi-lobi politik luar negeri itu penting! Kalau tidak sebentar lagi Indonesia di India-kan! Jangan sampai kita dijadikan India kedua! Bagaimana caranya?

Di depan kita pura-pura taat pada globalis, di dalam negeri kita percepat produksi vaksin Nusantara. Efeknya berat lho kalau propaganda mematikan Indonesia sudah diluncurkan! Indonesia tidak bisa berumroh, tidak bisa berhaji, turis asing ke Indonesia, produk Indonesia tidak bisa diserap pasar internasional, turis tidak datang ke Indonesia, orang Indonesia tidak bisa keluar negeri, dan banyak pengaruh negatif lainnya!

Sudahlah, jangan banyak mikir lagi. Sudah dibantu analisanya oleh Boss Man, aksinya harus jelas agar kita bisa memenangkan perang melawan Covid dengan strategi politik luar negeri yang mumpuni, printing money sendiri (jangan hutang terus), vitamin gratis, dan vaksin gratis.

Begitulah kira-kira opini yang bisa saya sadur dari narasumber bapak Mardigu Wowiek sang Boss Man. Semoga bermanfaat dan salam sehat selalu.

Komentar