ALASAN KENAPA CLUBHOUSE BEGITU CEPAT MERAIH KEPOPULERAN

Komentar · 1050 Tampilan

Strategi Marketing yang masih bisa dilakukan saat ini dengan sedikit modifikasi. Tulisan Kang Saiful Islam di share untuk pengetahuan.

Penulis : Saiful Islam
 
Clubhouse menyita perhatian.
Jejaring sosial yang diendorse Elon Musk dan Zuckerberg ini mendadak booming di seluruh dunia.
Tak terkecuali di Indonesia.
Apa yang membuat Clubhouse begitu cepat meraih kepopuleran?
Karena sarat ilmu, banyak orang
hebat, bahkan bisa ngobrol bareng orang
hebat disana. Iya bisa jadi.
 
Kalau itu satu-satunya faktor, sebenarnya ada banyak media lain yg gak kalah dari Clubhouse.
Linkedin atau Medium misalnya
Tapi ada faktor yg lebih kuat.
Exclusivity.
Clubhouse ini exclusive banget.
Selektif hanya untuk platform iOS.
Hanya bisa masuk kalau di invite.
Exclusivity ini dalam ilmu marketing psikologi diustilahkan sebagai context design atau teknik mendesain lingkungan.
 
Masih nyambung dengan Clubhouse atau context design ini saya jadi inget cerita legendaris Raja Frederick saat "memarketingkan" kentang. Dengan prinsip yang persis sama.
Kisah penelitian sejarah di jaman Frederick Agung (Friedrich II The Great) di wilayah Prussia (kerajaan bangsa jerman) ini sangat menarik untuk contoh kasus.
Saat itu Raja Frederick ingin sekali agar rakyatnya mengkonsumsi kentang selain gandum.
Ada dua alasan yang membuat Frederik ingin rakyatnya menanam dan mengkonsumsi kentang.
Pertama, untuk menjaga harga gandum yang sangat fluktuatif karena hanya mengandalkan satu bahan saja yakni gandum.
Dengan adanya kentang, maka diharapkan harga bahan makanan bisa stabil.
Kedua dengan adanya kentang memperkuat ketahanan pangan bangsa Prussia.. karena selain mengandalkan gandum mereka masih punya cadangan kentang.
Permasalahannya cuma satu:
Rakyat Prusia jijik sekali sekali akan kentang, menurut mereka bentuk sayuran ini jelek dan menggelikan.
Bahkan anjing pun gak akan doyan makan kentang kata mereka. Lihat aja sudah ogah apalagi kalo disuruh nanam.
Bener-bener penolakan yang besar-besaran dari rakyat Prussia. Sejarah juga mencatat.. banyak juga rakyat yang dibunuh kerajaan gara2 terang-terangan menolak perintah menanam kentang ini.
Kita identifikasi dan analisa permasalahan ini dengan rumus yang diberikan oleh Kurt Lewin, Bapak Psikologi Modern.
Rumus Lewin adalah
B=f(P,E).
Penjabarannya seperti ini.
B=Behavior atau Perilaku
P=People, atau individu yang ingin kita rubah
E=Environment atau lingkungan tempat individu tadi tinggal
f= simbol untuk fungsi, atau perilaku seperti apa yang ingin dituju
Cara baca rumus diatas:
Perilaku adalah fungsi yang melibatkan orang dan lingkungan.
Jadi kalau mau merubah perilaku orang, kalo gak dirubah orangnya ya lingkungannya atau keduanya.
Berikut penjabaran rumus tersebut dalam konteks kasus rakyatnya Frederick sbb:
B= Behavior atau Perilaku yang diharapkan Frederick.. rakyatnya mau menanam kentang
P= People atau Target yang ingin ditubah perilakunya .
Dalam kasus ini adalah rakyat Prussia yang menolak mentah-mentah menanam kentang
E= Environment atau Lingkungan (konteks) .. Pilihan yang diambil Frederick untuk dimainkan
Frederick sudah setengah putus asa merubah perilaku rakyatnya secara langsung (P).
Terbukti dengan aturan keras pun juga masih tetap dilanggar oleh rakyatnya. Kemudian ia berpikir memodifikasi E (environment).
Caranya bagaimana:
Otak ‘marketing’nya jalan…Ia mendeklarasikan Kentang sebagai Royal Vegetable atau sayuran khusus untuk keluarga kerajaan.
Kalau sekarang mungkin makanan khusus sultan lah..
Rakyat biasa tidak boleh menanam dan mengkonsumsi kentang.
Kentang ditanam khusus di lahan penanaman kentang kerajaan yang dijaga super ketat.
Dilengkapi dengan tentara dan serdadu tak boleh ada rakyat yang mendekat sejengkalpun.
Apa akibat dari kebijakannya: Tidak menunggu lama… Muncul penanaman lahan kentang ‘underground’ secara massif.
Rakyat secara sembunyi-sembunyi menanam kentang di perkebunan mereka. Sampai akhirnya kentang menjadi sayuran yang sangat populer waktu itu. Bahkan sampai saat ini.
Kejadian ini dicatat dalam sejarah sebagai langkah brilian Frederick dalam me’marketing’kan kentang.
He he he... Kocak plus keren ya si Frederick. Tapi terbukti cara itulah yang berhasil.
Exclusivity ini yang membuat Clubhouse sangat berbeda.
Ditambah teknik delivery konten atau value ala Clubhouse yg beda.
Menggunakan voice only, gak bisa direkam, gak bisa diulang.
Ini yang bikin membuat Clubhouse malah makin menarik memperkuat uniqueness nya.
Context Design adalah salah satu saja cara mendatangkan traffic, prospek bahkan new customers.
Attract Strategy.
Oh iya gara-gara strategy yg super sukses itu tadi, si Frederick terkenal juga sebagai Raja Kentang.
Kontribusi dia untuk mempopulerkan kentang sebagai komoditas pangan penting patut dikenang.
Terima kasih ya sudah simak tulisan panjang ini.
Sam Ipoel
Salam Nginbound
Disarikan dari grup Telegram Inbound Marketing Strategy
Komentar