FLEXING MARKETING

Komentar · 67 Lihat

Akhir-akhir ini kata flexing menjadi viral. Terutama pembahasan di medsos. Setelah pengungkapan dampak negatif dari crazy rich. Yang sebelumya pamer kekayaan demi konten dan merebut followers

FLEXING MARKETING

Esai
#89

Akhir-akhir ini kata flexing menjadi viral. Terutama pembahasan di medsos. Setelah pengungkapan dampak negatif dari crazy rich.
Yang sebelumya pamer kekayaan demi konten dan merebut followers

Mengenal Flexing, Berawal Dari Bahasa Gaul Bisa Jadi Strategi Marketing.

Menurut Cambridge Dictionary, flexing adalah menunjukkan sesuatu yang dimiliki atau diraih tetapi dengan cara yang dianggap oleh orang lain tidak menyenangkan.

Sedangkan menurut kamus Merriam-Webster  flexing adalah memamerkan sesuatu atau yang dimiliki secara mencolok.


Flexing

adalah istilah yang digunakan untuk pamer kekayaan. Dikutip dari laman Dictionary.com, asal mula munculnya kata "flexing" yakni bahasa gaul di kalangan ras kulit hitam amerika atau slang, untuk "menunjukkan keberanian" atau "pamer" pada tahun 1990-an.  

Rapper Ice Cube secara khusus menggunakan kata ini dalam lagunya tahun 1992 berjudul "It Was a Good Day", dengan liriknya Saw the police and they rolled right past me / No flexin’, didn’t even look in a n*gga’s direction as I ran the intersection.

Selanjutnya, kata "flex" atau flexing menjadi populer kembali pada tahun 2014 berkat lagu "No Flex Zone" dari Rapper Rae Sremmurd yang menceritakan ada sebuah area untuk orang-orang yang santai, bersikap seperti dirinya sendiri, dan tidak pamer atau pura-pura menjadi pribadi yang berbeda.

Dapat disimpulkan dalam bahasa gaul, orang yang flexing adalah dianggap suka berbohong memiliki banyak kekayaan meski realitanya tidak.

Banyak yang berpendapat bahwa kata flexing adalah yang palsu, memalsukan, atau memaksakan gaya agar diterima dalam pergaulan.

Dalam marketing kalau kita beriklan produk kita  tentu tidak dikatakan flexing.
Medsos dianggap jalan cepat agar produk kita tersampaikan ke followers kita atau semua audiens yang kita sasar. Apalagi di era Marketing 4.0 seperti sekarang ini.

Di zaman Now taktik pamer, show-off atau flexing memang sangat populer sekali.

Menurut Kris Mowanto,pemerhati marketing, bahwa jarang yang memperhatikan situasi bahwa realita pasar justru terbalik.Market semakin tidak bersifat mass.Tapi justru semakin me-long tail.

Narrowing (menyempit)  dan sangat super segmented.
Karena yang dibutuhkan saat ini adalah ,trust atau kepercayaan  agar awet  bukannya No traffic no profit yang bersifat sementara.

Bagaimana langkah yang efektif untuk flexing terhadap iklan kita,?

Komentar